Buat banyak orang, teh poci identik dengan gerobak kaki lima di pinggir jalan, atau meja kecil di depan kios dengan poci tanah liat dan tumpukan gula batu di sampingnya. Tapi di balik kesan sederhana itu, teh poci adalah usaha sungguhan — ada modal yang dikeluarkan, bahan baku yang dibeli, penjualan yang terjadi puluhan sampai ratusan kali sehari, dan untung-rugi yang sebenarnya jarang benar-benar dihitung oleh penjualnya sendiri.
Artikel ini membahas dua sisi teh poci sekaligus: dari mana tradisi ini berasal, dan — yang jarang dibahas — bagaimana transaksi jual-belinya semestinya dicatat kalau usaha ini ingin dikelola secara serius, bukan sekadar jalan apa adanya.
Dari Tegal untuk Indonesia: Asal-usul Teh Poci
Teh poci berakar dari Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah — daerah yang sampai sekarang dijuluki "Kota Teh". Tradisi minum teh di sana bahkan disebut sudah ada sejak sebelum tanaman teh masuk ke Indonesia sekitar abad ke-17, karena Tegal punya pelabuhan besar yang jadi jalur perdagangan, termasuk teh yang didatangkan dari Tiongkok. Belakangan, pada masa kolonial, teh juga jadi komoditas perkebunan penting di Jawa Tengah, dan budaya minum teh masyarakat setempat makin mengakar.
Cara minumnya punya nama sendiri: moci, akronim dari "minum teh pakai poci". Teh diseduh dalam poci dari tanah liat (grabah/gerabah), lalu dituang ke cangkir yang sudah berisi gula batu. Gula batu itu sengaja tidak diaduk — dibiarkan larut perlahan dengan sendirinya. Ada makna filosofis di baliknya: hidup sering terasa pahit di awal, tapi kalau dijalani dengan sabar, rasa manis akan datang sendiri di ujungnya.
Kualitas teh poci yang "benar" bahkan punya tolok ukurnya sendiri, disingkat wasgitel — wangi (harum, biasanya beraroma melati), panas (selalu disajikan hangat, supaya obrolan mengalir lebih santai), sepet (sedikit rasa sepat khas teh yang menambah karakter), legi (manis dari gula batu yang larut alami), dan kentel (kepekatan seduhannya). Kalau kelima unsur ini terasa seimbang, itulah teh poci yang dianggap otentik oleh masyarakat Tegal dan sekitarnya.
Bagaimana Usaha Teh Poci Modern Berjualan
Tradisi ini yang kemudian banyak diadaptasi jadi usaha kaki lima maupun gerobak keliling di berbagai kota, jauh dari Tegal sekalipun. Modal awalnya relatif terjangkau — kisaran Rp3,5 juta sampai Rp6,5 juta untuk usaha mandiri (gerobak, kompor, termos, poci, cangkir atau gelas plastik, dan stok awal bahan baku), atau mulai Rp5 juta sampai Rp20 juta kalau memilih jalur franchise yang menyediakan branding dan resep siap pakai.
Penjualannya sebagian besar terjadi dengan pola yang sama: pembeli datang langsung ke gerobak atau kios, pesan satu-dua gelas, bayar tunai di tempat, minum atau bawa pulang. Harga jualnya umumnya Rp5.000 sampai Rp10.000 per gelas tergantung lokasi dan porsi. Dengan rata-rata 50 sampai 100 gelas terjual per hari, omzet harian bisa ada di kisaran Rp250.000 sampai Rp700.000 — bervariasi cukup jauh tergantung ramai-tidaknya lokasi dan jam operasional.
Tapi ada satu pola penjualan lain yang justru sering luput dari perhitungan: pesanan partai besar untuk acara — hajatan, arisan, rapat kantor, sampai bukaan puasa bersama. Pesanan seperti ini biasanya dipesan beberapa hari sebelumnya, dibayar sebagian sebagai uang muka (DP) saat pemesanan, dan dilunasi saat acara berlangsung atau saat barang diantar. Nilainya per pesanan jauh lebih besar dari penjualan eceran harian, tapi juga membawa satu hal yang tidak dimiliki penjualan tunai: piutang usaha, sekalipun cuma untuk beberapa hari.
Mencatat Penjualan Harian Teh Poci Secara Akuntansi
Ambil contoh konkret. Seorang penjual teh poci berjualan dengan gerobak, harga jual Rp6.000 per gelas, dan rata-rata terjual 60 gelas sehari. Berikut bagaimana rangkaian transaksinya semestinya tercatat, dari modal awal sampai penjualan harian:
- Modal awal disetor oleh pemilik sebesar Rp5.000.000 untuk membeli gerobak, kompor, termos, poci, dan peralatan lain — dicatat sebagai Debit Kas Rp5.000.000, Kredit Modal Pemilik Rp5.000.000. Ini titik awal yang sering dilewati begitu saja oleh pedagang kaki lima, padahal tanpa mencatatnya, tidak ada patokan untuk tahu berapa sebenarnya modal yang harus "balik" sebelum usaha ini benar-benar mulai untung.
- Sebagian modal itu dibelanjakan untuk peralatan (gerobak, kompor, termos, poci) sebesar Rp3.500.000 secara tunai — dicatat sebagai Debit Peralatan Rp3.500.000, Kredit Kas Rp3.500.000.
- Setiap pagi, pembelian bahan baku (daun teh, gula batu, air galon, gas) sebesar kurang lebih Rp108.000 untuk stok sehari — dicatat sebagai Debit Persediaan Bahan Baku Rp108.000, Kredit Kas Rp108.000. Angka ini kalau dibagi rata dengan 60 gelas, berarti biaya bahan baku per gelas sekitar Rp1.800.
- Di akhir hari, penjualan tunai direkap jadi satu angka — 60 gelas × Rp6.000 = Rp360.000 — dan dicatat sebagai Debit Kas Rp360.000, Kredit Pendapatan Penjualan Rp360.000. Pedagang kaki lima jarang mencatat tiap gelas satu per satu secara real-time, dan itu wajar; yang penting rekap harian ini tetap dilakukan secara konsisten, bukan cuma diingat-ingat di kepala.
- Beban pokok penjualan (HPP) hari itu — nilai bahan baku yang benar-benar habis terpakai untuk 60 gelas yang terjual — diakui sebesar Rp108.000, dicatat sebagai Debit Beban Pokok Penjualan Rp108.000, Kredit Persediaan Bahan Baku Rp108.000. Setelah dua jurnal penjualan dan HPP ini digabung, terlihat jelas: dari omzet Rp360.000, laba kotor hari itu adalah Rp252.000 — bukan Rp360.000 seperti yang sering dikira kalau cuma melihat kas yang masuk.
- Beban operasional harian lain — retribusi tempat, bensin gerobak keliling, atau kantong plastik — misalnya Rp30.000, dicatat sebagai Debit Beban Operasional Rp30.000, Kredit Kas Rp30.000. Setelah ini, laba bersih hari itu baru benar-benar terlihat: Rp252.000 − Rp30.000 = Rp222.000.
Mencatat Pesanan Partai Besar dan Piutang Usaha
Sekarang bandingkan dengan pesanan untuk acara — misalnya sebuah keluarga memesan 5 termos teh poci untuk acara pernikahan, seharga total Rp750.000, dipesan tiga hari sebelum acara dengan DP 50%.
- Saat pemesanan (H-3), DP diterima sebesar Rp375.000 — dicatat sebagai Debit Kas Rp375.000, Kredit Pendapatan Diterima Dimuka Rp375.000. Uang ini belum boleh diakui sebagai pendapatan penuh, karena barangnya belum diserahkan — ini masih berstatus kewajiban penjual untuk memenuhi pesanan.
- Saat acara berlangsung dan pesanan diserahkan, seluruh nilai pesanan baru diakui sebagai pendapatan: Debit Pendapatan Diterima Dimuka Rp375.000 dan Debit Piutang Usaha Rp375.000 (sisa yang belum dibayar), Kredit Pendapatan Penjualan Rp750.000.
- Ketika pelunasan diterima — baik langsung di lokasi acara maupun beberapa hari sesudahnya — dicatat sebagai Debit Kas Rp375.000, Kredit Piutang Usaha Rp375.000.
Kenapa Pencatatan Ini Penting, Meski Usahanya Kelihatan Sederhana
Poin dari dua contoh di atas bukan supaya penjual teh poci kaki lima tiba-tiba harus jadi ahli akuntansi. Poinnya adalah: tanpa pencatatan seperti ini, ada dua hal yang gampang tercampur dan menyesatkan penilaian tentang usaha ini benar-benar sehat atau tidak.
- Omzet bukan laba. Rp360.000 yang masuk ke kas hari itu bukan seluruhnya keuntungan — sebagian adalah biaya bahan baku dan operasional yang harus dikeluarkan lagi. Tanpa memisahkannya, pedagang bisa merasa "laku terus" padahal marginnya makin menipis, misalnya karena harga gula batu atau daun teh naik tanpa disadari.
- DP bukan pendapatan yang sudah pasti milik penjual. Uang muka pesanan hajatan yang sudah diterima itu masih bisa berubah — pesanan bisa batal, jumlahnya bisa berubah — sehingga mencatatnya langsung sebagai pendapatan penuh di depan bisa membuat laporan keuangan bulan itu terlihat lebih baik dari kondisi sebenarnya.
- Piutang yang tidak tercatat gampang terlupa. Pesanan partai besar biasanya nilainya jauh lebih besar dari penjualan eceran, sehingga kalau pelunasannya sampai terlewat tanpa catatan, dampaknya ke arus kas usaha jauh lebih terasa dibanding kalau yang lupa ditagih cuma satu-dua gelas teh eceran.